Rabu, 05 Januari 2011

Menerapkan Produksi Bersih tidak selalu mahal

Keinginan untuk menerapkan strategi PB (Produksi Bersih) sering dikaitkan dengan investasi yang merupakan beban biaya bagi perusahaan. Ketika upaya peningkatan efisiensi dan pengelolaan limbah di perusahaan sering dipahami harus selalu mengganti mesin, alat, memasang teknologi baru sehingga menyebabkan tertundanya keinginan itu.

Perlu ada proses yang memberi keyakinan bahwa mindet ini tidak sepenuhnya benar. So, bagaimana kita meyakinkan diri dan perusahaan kita bahwa ini bisa dilakukan.

Tahapan pertama adalah identifikasi, teliti, amati, cermati hal-hal disekitar kita yang saat ini terjadi dan apakah memang harus terjadi? Mengapa mesti terjadi? Sejak kapan? Berapa kerugian perusahaan selama ini? Siapa yang bertangggung-jawab? Sadar atau tidak ternyata ini dilakukan oleh sebuah perusahaan yang setiap hari kita bekerja atau memimpinnya.

Hal-hal yang sering dianggap sepele karena secara makro perusahaan juga masih tetap berjalan, tetap berproduksi, produk tetap laku bahkan bisa ekspor, dan alasan-alasan bisnis yang sekilas memang bisa membuat kita terlena. Apalagi sudah punya ISO-9000 ISO-14001 dan sederet sertifikat. Apalagi kalau bicara cash flow,... hmm toh biaya listrik masih terbayar, retribusi air masih terbayar, retribusi sampah tidak terlalu signifikan, dst. biaya pemantauan limbah masih ok, ongkos limbah B3 masih bisa diatasi.

Ketika anda memasuki gedung dimana anda bekerja, atau sebuah hotel atau mall yang bertebaran berbagai pusat perbelanjaan, coba sesekali anda amati berapa kejadia pemborosan listrik yang sungguh luar biasa. Lampu yang menyala secara berlebihan, atau lampu yang menyala disiang ahri, atau kran air yang rusak ketika anda masuk toilet, atau flushing WC yang masih menggunakan air secara boros, dst. Who care? Emang gue pikirin? Siapa peduli? Peduli amat? Toh itu bukan saya yang bayar kan saya kerja udah dapat gaji, dan kejadian itu bukan tanggung-jawab saya? Hm.. apa benar?


Kejadian seperti ini merambah diseantero Indonesia bahkan dunia. Sekali lagi siapa peduli? Inilah awal bencana pemborosan ini. Bukankah Boros itu kesia-siaan? Boros itu rugi? Boros itu peluang untuk berbuat kebaikan. Menyelamatkan bumi dari kerusakan dan pencemaran bahkan sekarang dampak perubahan iklim yang tak terbendung. Meski para pemimpin dunia terus berdiskusi untuk mencari solusi. Yang pasti proses degradasi sumberdaya alam terus berjalan cepat atau lambat. Cuaca semakin sulit dipahami, petani kebingungan dengan masa tanam, Panen raya yang semakin jauh dari impian. Kita berbuat atau tidak,...terus terjadi. Masalahnya kecepatannya harus kita kendalikan agar generasi penerus, anak cucu kita masih dapat menikmati keindahan alam, kesejukan, kenyamana hidup di muka bumi ini.

Kembali ke isu pokok yang saya sampaikan dimuka, apakah kita bisa melakukan konsep Produksi Bersih (yang intinya efisiensi sda dan mencegah / minimisasi terjadinya limbah) tanpa harus dengan biaya yang membebani biaya?

Untuk itu saya akan membuat sebuah ilustrasi dalam sebuah seminar yang seringkali saya hadiri sebagai salah satu pembicara.

Ketika saya sedang menyampaikan presentasi materi ini (Produksi Bersih) maka isu konkrit yang mudah saya lihat adalah ruangan yang ber AC yang kadang terlalu dingin, jendela yang tertutup rapat agar cukup gelap sehingga agar LCD bisa memantulkan bahan presentasi (powerpoint) saya ke layar dengan jelas dan terang. Disisi lain kadang-kadang lampu ruangan menyala kalaupun tidak semua masih terlalu banyak yang menyala.

Who care? Dengan kejadian ini? Toh panitia sudah membayar penuh biaya paket meetingnya, toh pihak hotel sudah cukup puas karena ruang seminarnya hari ini masih disewa oleh penyelenggara seminar. Tetapi sebauh kenyataan bahwa pemborosan sedang berlangsung, dan ini terus terjadi sejak hotel ini (hotel anda, pabrik ada, kantor anda) berdiri dan entah sampai kapan?

Kalau dalam ruangan itu ada 100 buah lampu yang menyala, kali masing-masing 50 watt kali
10 jam maka berapa Watt konsumsi hari itu karena ada seminar. 50.000 Wattjam. Kalau hotel ini dalam sebulan disewa 10 hari saja maka sudah 500.000 Wattjam. Kalau dalam setahun berarti sudah mengkonsumsi 12 X 500.000 Wattjam = 6.000.000 Wattjam. Atau 6 MegaWattjam. Bagaimana kalau 100 lampu tadi bisa kita hemat dengan cara yang sangat mudah, simpel dan murah. tidak perlu ganti mesin saklar otomatis, ganti lampu yang lebih hemat energi (pasti mahal kan?), takut ada investasi, maka matikan saklar lampu-lampu tadi disaat ada presentasi, dan nyalakan kembali pada saat diskusi. Tugaskan seseorang di hotel untuk melakukannya. Cek jadwal ke panitia, koordinasi dengan panitia seminar, buat kesepakatan kalau pas ada presentasi lampu dimatikan, mudah bukan. Yang diperlukan hanya sebuah kesadaran bahwa memang pemborosan yang berarti kerugian. Sadar atau tidak. Mari dengan sadar kita lakukan perubahan walau sederhana. Namun dampaknya sunguh dahsyat. Save energy, save your money, save the earth.

Jangan lupa hitung secara konsisten berapa penghematan / keuntungan yang diperoleh dalam setahun dan jangan lupa, beri insentif (bonus akahri tahun) kepada petugas yang mematikan saklar tadi. Agar program sederhadn ini tetap sustainable, karena ada ownership, kepedulian, rasa memiliki atau bahkan mencintai kebaikan. Inilah bentuk nyata mewujudkan sustainable development melalui upaya konsumsi berkelanjutan (Sustainable consumption). Ukur, lakukan sesuatu, ukur kembali dan rasakan manfaatnya. Ulangi lagi3X.

Selasa, 22 Juni 2010

Membangun pasar produk petani dan agro

Kita tahu banyak sekali inovasi yang dikembangkan di Indonesia. Masalahnya adalah apakah inovasi ini dibarengi dengan pengembangan pasarnya.

Contohnya, kemarin saya dan istri ketika mau beli nasi goreng dan mie rebus kebetulan didepannya ada sebuah toko kecil yang menjual berbagai jenis produk pewangi. harganya berkisar antara Rp. 5000,- per cc sampai Rp. 10.000,- /cc. Ketika iseng saya bertanya, dari mana bahan bakunya, ya dari impor dari luar negeri. Jadi dapat dibayangkan kalau disebuah toko saja menjual puluhan jenis bibit minyak wangi, yang bahan bakunya banyak sekali tersebar di berbagai pelosok di Indonesia, betapa makmurnya petani kita. 1 liter ekstrak berarti minimal harganya sudah Rp. 5 juta.

Apa tidak ada sih petani yang sejahtera dengan mengembangkan tanaman bibit minyak wangi seperti melati, kenanga, mawar, orange, melon (kebetulan anak saya suka jenis ini). wow, kemana ini pakar kita. Atau anda punya info. Mari sinergikan informasi yang anda miliki untuk berbagi dengan saya agar petani kita sejahtera. Kapan lagi kita berpihak kepada petani kita. Hm.... semoga dan semoga.

Selasa, 03 Februari 2009

Jumat, 23 Januari 2009

You can do more with this ......

Anda bisa berbuat lebih ......




Free Website Hosting